Dengan mata tembus pandangnya, Lynx dapat melihat lima perampok di dalam bangunan bersiap keluar sambil menarik seorang wanita.

Dengan gesit, Lynx bersembunyi di balik bayangan pohon, mengamati situasi yang terjadi. Ia merasakan adrenalin mengalir deras dalam tubuhnya, mempersiapkan diri untuk langkah selanjutnya. "Aku tidak akan membiarkan mereka melukai wanita itu lebih jauh," pikirnya, tekadnya semakin menguat.

Sementara itu, pimpinan perampok itu menatap wanita dengan tatapan penuh kebencian. "Diam! Jangan berusaha melawan, atau aku akan membuatmu menyesal!" teriaknya, menarik rambut wanita itu hingga dia merintih kesakitan.

Lynx tidak bisa lagi menahan diri. Setelah kawanan perampok itu keluar dan melihat apa yang terjadi di dekat api unggun, Lynx segera memanfaatkan keterkejutan mereka dan melompat dari persembunyiannya, tubuhnya meluncur seperti panah menuju arah perampok tersebut. Dengan satu gerakan cepat, ia menghunus pedangnya, kilauannya memantulkan cahaya api unggun.

"Rasakan ini!" teriak Lynx, suaranya penuh kebencian.

Sebelum pimpinan perampok itu sempat bereaksi, Lynx sudah berada di depannya. Dengan tebasan yang cepat dan tepat, Lynx memotong tangan yang menahan rambut wanita itu. Pimpinan perampok terjatuh, terkejut dan kesakitan, sementara wanita itu segera berusaha untuk bebas dari ikatannya.

Empat perampok lainnya yang menyaksikan kejadian itu panik. "Ayo, serang dia!" teriak salah satu dari mereka, berusaha mengangkat senjata mereka.

Namun, Lynx sudah bersiap. Dengan gerakan lincah, ia menghindari serangan pertama dan melemparkan pisau terbang ke arah perampok yang paling dekat. Pisau itu melesat dan tepat mengenai dada perampok tersebut, membuatnya terjatuh seketika.

"Satu demi satu," Lynx bergumam, semangatnya semakin berkobar. Ia bergerak cepat, menyerang perampok-perampok lainnya dengan serangan yang mematikan. Dalam sekejap, Lynx berhasil menghabisi dua perampok lagi, meninggalkan hanya satu yang tersisa.

Perampok terakhir, yang terlihat ketakutan, mengarahkan senjatanya ke Lynx dan bersiap untuk melawan. "Kau tidak akan bisa menang! Kami lebih banyak!" teriaknya, berusaha menunjukkan keberanian yang palsu.

Lynx tersenyum tipis. "Panggillah kalau bisa. Lihat sekitarmu," jawabnya dengan tenang.

Perampok itu memandang ke arah api unggun dan terjatuh terduduk ketakutan karena dia sudah melihat rekan-rekannya yang terbunuh.

Dalam sekejap, Lynx menebaskan pedangnya ke arahnya, mengakhiri anggota perampok itu dengan satu tebasan yang fatal.

Setelah situasi tenang, Lynx berbalik menuju wanita yang terikat. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya lembut, memberinya senyuman menenangkan.

Wanita itu menatap Lynx dengan penuh rasa syukur. "Ya, terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalas budi ini," katanya, matanya penuh haru.

Lynx mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. "Tidak perlu berterima kasih. Bebaskan yang lain, aku akan mengurus pimpinan mereka ini," ujarnya, menatap ke arah pimpinan perampok yang menahan sakit dengan tatapan mata ketakutan.

Wanita itu mengangguk, segera berlari untuk membantu melepaskan para tawanan yang lain. Lynx menatap pimpinan perampok yang terkapar di tanah, merasakan kemarahan dan keadilan berpadu dalam hatinya. "Kau akan membayar atas semua ini," katanya dengan marah.

"Tunggu... tunggu, aku bisa memberimu..." pimpinan perampok tersebut tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena tanpa ragu Lynx mengayunkan senjatanya ke arah leher pimpinan perampok hingga putus.

Lynx kemudian berbalik dan menyusul wanita itu, memastikan mereka semua selamat. Ia mempercepat langkahnya, mengawasi sekeliling dengan waspada, siap menghadapi segala kemungkinan yang mungkin muncul. "Aku akan membasmi mereka semua secepat mungkin tanpa ragu, agar aku bisa segera kembali ke kampung Surya," pikirnya.

Saat tiba di tempat para para penduduk di tahan, Lynx memperhatikan dengan seksama para penduduk yang sudah dibebaskan. Di sana, ia melihat seorang pria tua dengan wajah keriput yang dipenuhi garis-garis kehidupan, duduk lemas di tanah. Anak muda berdiri di sampingnya, tampak cemas dan gelisah. Ibu-ibu yang baru saja dibebaskan terlihat menggendong anak-anak mereka, memeluk erat seolah tak ingin melepaskan mereka lagi.

Lynx mendekati mereka, merasakan kesedihan dan ketidakberdayaan yang menyelimuti suasana tersebut. "Kalian aman sekarang," ujarnya dengan suara lembut, berusaha memberikan semangat. "Para perampok itu tidak akan mengganggu kalian lagi."

Pria tua itu menatap Lynx dengan mata penuh rasa syukur. "Kami tidak tahu bagaimana kami bisa membalas budi ini," katanya, suaranya bergetar.

Ibu-ibu itu mengangguk, air mata haru mengalir di pipi mereka. "Terima kasih. Kami sangat beruntung kau datang tepat waktu," ucap salah satu dari mereka, suaranya penuh emosi.

Anak muda di samping pria tua itu menatap Lynx dengan tatapan penuh kekaguman. "Siapa kamu, kenapa kamu menolong kami?" tanyanya, suaranya bergetar penuh rasa ingin tahu.

Lynx tersenyum tipis, merendahkan suara agar lebih akrab. "Aku Lynx, kepala suku Surya. Secara kebetulan, aku bertemu beberapa gadis yang sedang dikejar oleh perampok. Mungkin ada yang mengenalnya, mereka Mira, Rina, Sari, Dita, dan Lila."

"Anakku, mereka anakku!" teriak beberapa wanita tua sambil menangis, didampingi sosok pria tua di samping mereka. "Di mana mereka sekarang?"

"Mereka baik-baik saja. Kalian segeralah pergi dari sini sebelum perampok lainnya datang lagi," kata Lynx mengingatkan.

Mendengar itu, para penduduk mulai cemas dan takut. "Kemana kita harus pergi?" kata salah satu dari mereka. Para penduduk saling memandangi dan terlihat bingung. "Kemanapun kita pergi, mereka akan mengejar untuk diserahkan ke suku Monrest."

"Ke mana suku-suku besar seperti Sinto, Raksa, Yaksa, Uksa, dan Auksa? Kita hanya bisa meminta perlindungan kepada mereka," kata penduduk lainnya.

"Tunggu, bukankah tadi dia mengatakan suku Surya?" kata seorang pria sambil memandang Lynx. "Apakah kalian pernah mendengarnya?"

Semua penduduk menggelengkan kepala karena mereka tidak pernah mendengar suku Surya sebelumnya. Mereka lalu menatap Lynx dengan penasaran.

Lynx, yang memiliki pendengaran tajam, mengetahui pembicaraan mereka. "Kalian tidak perlu khawatir. Suku-suku yang kalian sebutkan tadi sudah bergabung menjadi satu, menjadi suku Surya, dan mereka memilihku sebagai kepala suku."

Para penduduk mulai berbisik-bisik membicarakan hal itu. Ada rasa senang, namun ada juga rasa tidak percaya.

"Jika benar mereka bersatu, kita bisa ikut bergabung bersama mereka," kata salah satu penduduk.

"Iya betul. Tapi apakah kalian percaya? Kenapa kepala sukunya sangat muda? Selain itu, kenapa dia di sini? Mana suku Surya lainnya?" kata penduduk lainnya.

Wanita yang melepaskan ikatan mereka segera mengingatkan, "Dia seorang diri menyelamatkan kita. Aku melihatnya sendiri dengan mudahnya para perampok dibunuhnya. Itu menandakan pria ini meski muda, sangat kuat dan pantas menjadi kepala suku."

Mereka semua menganggukkan kepala setuju dan memohon kepada Lynx, "Kami tak tahu harus ke mana. Bisakah kami ikut bergabung bersama suku Surya?"

Lynx menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Kami senang kalian mau bergabung karena semakin banyak orang, maka semakin banyak kekuatan." Lynx lalu mengajak mereka semua pergi ke tempat Bruno menunggu.

Sementara itu, Bruno, sejak ditinggal Lynx, pergi memanjat pohon untuk memantau apa yang dilakukan Lynx. Saat melihat Lynx dengan mudahnya membunuh rekan-rekannya, Bruno sangat ketakutan. "Aku tidak akan berani menipunya, dia terlalu kuat, terutama dia bisa sihir, mengeluarkan pedang dari udara." Batinnya. Dia berjanji didalam hati, tidak akan melawan asalkan bisa tetap hidup. Ketika dia melihat rombongan Lynx datang bersama para penduduk yang ditahan, Bruno segera mendekati mereka.

Para penduduk yang melihat Bruno merasa ketakutan. "Kepala suku, dia orang yang ikut menangkap kami," kata salah satu pemuda, suaranya bergetar.

"Kalian tidak perlu khawatir. Dia tidak akan berani menyakiti kalian karena hidupnya ada di tanganku," kata Lynx, berusaha menghilangkan kekhawatiran penduduk. "Dia masih hidup karena aku memerlukan dia untuk menemukan lokasi lainnya."

"Benar, benar yang dikatakan kepala suku. Aku tidak akan berani mengulanginya lagi. Aku akan membantu kalian semua, maafkan aku," kata Bruno ketakutan. Dia tidak ingin para penduduk mempengaruhi Lynx sehingga dia dibunuh. Dia mendengar para penduduk menyebut pria yang ditakutinya dengan kepala suku. Meskipun dia tidak mengetahui kepala suku apa yang dimaksud, dia cukup cerdas untuk ikut menyebutnya kepala suku.

Lynx memanggil seorang pria tua yang dia nilai cukup bijaksana, dan suaranya didengarkan oleh penduduk lainnya. "Bawalah para penduduk ini ke barat pulau. Di sana, kalian akan menemukan penjaga yang ku perintahkan untuk mengawasi keadaan. Mereka pasti akan menemukan kalian."

